Jumat, 16 November 2012
Karinding Hampir Punah via http://bachtiarhakim.wordpress.com/2009/04/08/karinding-yang-terancam-punah/
“Berapa luas kebun bambu di Jawa Barat dan berapa orang yang memiliki karinding and celempung? Coba anda bandingkan!”
Dengan gayanya yang santai, Kang Asep (44) melontarkan pertanyaan itu kepada saat saya bertandang ke rumahnya di sebuah bilangan kawasan Cigereleng, Bandung untuk mendiskusikan kelangkaan Karinding. Saya terdiam sejenak untuk mencari jawaban . Namun, tanpa diminta pertanyaan tersebut dijawab sendiri oleh pria bertubuh tambun ini dengan pengalaman mirisnya dalam mencari karinding. Dosen Sekolah Tinggi Seni Bandung (STSI) ini mengakui betapa susahnya ia mencari waditra – sebutan untuk alat musik tradisonal Sunda – berjenis getar itu.
“Karinding berbahan besi sudah punah di Sumedang, sekarang yang masih ada tinggal dari bambu dan pelepah aren, itu pun susah mencarinya,” ujar pria yang tercatat sebagai dosen di Jurusan Karawitan ini.
Lalu, ia beranjak dari kursi tamu untuk mengambil koleksi waditra miliknya yang tersimpan rapi di lemari. Tangannya memilah-milah lempengan-lempengan bambu yang bentuknya hampir mirip. Tak lama, Karinding buatannya telah ditemukan. Lalu, ia langsung membunyikan dengan getaran mulutnya. Hampir lima menit lamanya ia menghibur Warta Biru.
Beginilah suara karinding, ” papar pria yang bersama rekannya di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan penelitian selama setahun tentang Karinding pada tahun 1994.
Karinding hanyalah sebagian kecil contoh waditra yang terancam punah. Pada tahun 2002, menurut data Dinas Kebudayaan Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat (Disbudpar Jabar) terdapat sebelas waditra yang dianggap terancam punah. Jumlah itu hampir sepertiga dari waditra yang terdaftar di Disbudpar.
“Karinding sekarang hanya dikoleksi oleh perorangan,” ujar Taryo Sudarsono, kepala Laboratorium Karawitan STSI Bandung yang bertugas menginventarisasi waditra koleksi sivitasnya itu.
Taryo menambahkan, STSI secara institusi juga tidak banyak menyimpan berbagai ragam karinding. Senada dengan Asep, ia mengeluhkan langkanya alat itu. Begitupun dengan kedua museum itu, laboratorium STSI hanya memampang waditra yang popular, seperti perangkat gamelan, seperti rebab, kendang, bonang, saron, demung, ketuk, kempyang, kempul, dan goong. Adapun alat-alat non-gamelan yang umum dipajang di antaranya: kohkol atau kentongan, angklung, calung modern, beserta alat-alat hasil kreasi dosen dan mahasiswa STSI.
Meski kesulitan mencari pewarisnya, sebenarnya masih ada sumber literatur untuk mencari identitas waditra-waditra yang terancam punah tersebut. Namun, jumlahnya sedikit. Ensikopledia Sunda yang ditulis Ajip Rosadi, Kamus Karawitan Sunda karya Atik Soepandi, dan Khasanah Musik Indonesia dengan penulis Enoch . Pada media internet, waditra ini juga jarang bisa ditemukan pembahasannya.
Sayangnya, menurut Asep, penjelasan tentang waditra tersebut tidak detail dalam buku-buku terbitan Indonesia.
“Tidak ada penjelasan sejarah dan tokoh-tokoh yang mempopulerkannya, ” ujar lulusan S1 Jurusan Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara (USU) ini.
Asep juga heran karena pembahasan waditra yang lengkap justru ditemukan di luar negeri. Ia mencontohkan koleksi Museum Smisthsonian di Amerika Serikat. Lalu ada juga buku “The History of Musical Instrument” yang ditulis oleh peneliti berkebangsaan Jerman, Curt Such. Dalam buku itu disebutkan bahwa karinding –Jws Beat dalam bahasa Inggris- telah ada sejak zaman Neolitikum pada empat ribu tahun yang lalu.
Disebabkan Tradisi
Senada dengan Asep, Dodong Kodir sebagai seniman mengakui minimnya dokumentasi di Indonesia khususnya Jawa Barat disebabkan karena pewarisan budaya di tanah Sunda masih mengandalkan tradisi bertutur. Biasanya pewaris waditra juga merupakan saudara atau kerabat dekat si penutur.
“ Asep sebagai konseptor pembuatan dua puluh album Seri Musik Indonesia yang dilabeli oleh Smithsonian Folkways mencontohkan waditra lisung – dikenal juga dengan istilah gondang di daerah Baduy- sebagai contoh waditra yang mulai hilang karena tradisi. Bedanya, ia lebih membahas tradisi itu dalam bentuk ritual adat.
Lisung misalnya, dahulu identik dengan permainan tutunggulan. Sampai zaman kemerdekaan, permainan yang dilakukan dengan cara menumbuk lisung – batang pohon yang dilubangi untuk wadah beras yang dikeluarkan dari leuit (lumbung padi) – itu populer di hampir setiap daerah Jawa Barat. Permainan ini selalu juga dimasukkan sebagai kesenian adat maupun pertunjukkan dalam ritual seren taun dan memindahkan padi.
Dari keterkaitan tersebut dapat ditarik banyak simpulan. Pertama, waditra lisung bisa berkembang karena populernya permainan tutunggulan. Permainan tutunggulan bisa berkembang akibat ritual adat masih sering dijalankan suku sunda. Artinya, bila ritual adat itu jarang digelar maka permainan tutunggulan akan jarang pula. Begitupun dengan keberadaan lisung.
Selain itu, fungsi lisung dalam kehidupan social juga mempengaruhi keberadaannya sebagai waditra. Dalam istilah sosiologi, fungsi itu dapat diterjemahkan sebagai pandangan dan cara berperilaku yang umum dikerjakan masyarakat.
“Sekarang lihat saja berapa banyak orang yang masih menumbuk padi di lisung, hampir semuanya sudah memakai heler (mesin penggiling padi),” ujar pria kelahiran Sumedang yang menyelesaikan sarjananya dengan skripsi berjudul Musik Ritual di Suku Karo.
Fenomena ini diamini oleh Abah Encu (96), penutur waditra Tarawangsa tertua dan pemimpin orkes Sumedang Larang Tarawangsa di Kecamatan Rancakalong Sumedang. Bagi sesepuh berjanggut putih lebat ini, waditra tarawangsa tetap terjaga kelestariannya karena ada kesenian Tarawangsa. Meski dalam kesenian tarawangsa, tarawangsa dimainkan bersama alat musik lain perannya sebagai penjaga kelestarian adat Kasumedangan tetap terlaksana.
Langganan:
Komentar (Atom)
